Kisah Nyata : Berangkat Umroh Setelah Menyedekahkan Semua Uang Tabungan

Cerita luar biasa mengenai keberangkatan umroh ini diambil dari situs KOMPASIANA yang ditulis oleh   mbak khairunnisamusari (www.kompasiana.com/khairunnisamusari). Cerita ini kami muat di situs umroh murah semarang sebagai salah satu cerita motivasi untuk kita semua.

semoga cerita ini mampu membuat kita tergerak untuk bermimpi menunaikan ibadah umroh bahkan ibadah haji meski saat ini keadaan ekonomi kita jauuh dari kaya harta benda.

=======

Assalamu’alaikum Mbak Iis… Menuntaskan keingintahuan Mbak Iis tentang umroh saya. Titik tolaknya saat Ramadan lalu. Saat itu kan saya ada tugas liputan ke Philipina. Karena penerbangan internasional, saya berangkat lewat T2 Bandara Soetta. Nah, saat itu buuuanyak sekali jamaah umroh Ramadan yang akan berangkat. Mata saya berkaca-kaca melihat mereka yang tampak gembira. Dalam hati saya bergumam, “Ya Allah, dekatkanlah Mekkah dan Madinah untuk saya.

Saya ingin sekali beribadah di Baitullah dan ziarah ke rumah dan makam Nabi-Mu…” Sejak saat itu saya ber-azzam untuk mengencangkan niat, saya harus segera umroh! Mulai saat itu, hampir setiap usai salat, termasuk saat Tahajud dan Dhuha, saya selalu memohon dimudahkan jalan saya ke Baitullah. Tidak hanya itu, saya meminta restu istri (meski tidak wajib, tapi saya harus sampaikan keinginan saya ini karena berimplikasi pada suplai dapur, hehehe…). Istri saya sempat ragu dengan keinginan saya karena dia tahu seberapa besar kemampuan keuangan saya. Tapi saya yakinkan, Allah bersama saya… Akhirnya, saya mulai menabung. Tidak banyak, boleh dibilang receh. Saya kumpulkan uang Rp50 ribu, Rp100 ribu, sedikit demi sedikit… Saya jalani semua dengan sabar sembari terus mengencangkan doa yang tiada putus dan bosan.

Oh ya, sejak Idul Adha, saya memanjatkan doa spesifik kepada Allah. “Ya Allah, berangkatkan saya umroh setelah musim haji, Desember atau Januari. Bukankah saya sudah ikhtiar dengan menabung Ya Allah? Mudahkan semuanya…” kira-kira demikian doa saya di hampir setiap sujud shalat dan Tahajud saya. Ada kisah dramatik, setidaknya buat saya. Dan saya merasa, mungkin di titik inilah Allah ridha dengan ikhtiar saya. Ini husnuzhan saya pada Allah. Ceritanya…. saat itu tabungan umroh saya di amplop di bawah tumpukan baju di lemari baru Rp 600 ribu. Lalu, di suatu pagi, Ustadz Rahmat kirim kabar di grup WA mengabarkan santri yang mendapatkan hadiah umroh kekurangan uang Rp 1,5 juta untuk urusan administrasi. Skedul santri ini berangkat Februari 2015. Terima WA itu, ingatan saya langsung ke uang Rp 600 ribu itu. Saya ingin ringankan kekurangan itu, tapi saya mikir, lha uang saya kapan kumpulnya untuk umroh? Di situlah setan masuk. Tapi, saya berusaha tenang dan meresapi kembali janji-janji Allah. Awalnya, saya mau sedekahkan Rp 300 ribu untuk santri, lalu saya urungkan. Dengan bismillah… Saya sedekahkan semua. Saya mengambil amplop uang itu, lalu saya cium amplop berisi Rp 600 ribu sambil berdoa, “Ya Allah, uang ini untuk umrohku.

Tapi hari ini ada santri penghafal Quran yang lebih butuh, dia sudah jelas waktu berangkatnya, sedangkan aku belum jelas. Aku sedekahkan semua, tolong mudahkan jalanku ke Baitullah.” Lalu, uang itu saya serahkan ke Ustad Rahmat. Saat menyerahkan uang itu, mata saya kembali berkaca-kaca. Saya bilang ke beliau, “Tolong jangan bilang ke siapa pun, ini tabungan umroh saya. Santri lebih butuh daripada saya. Saya hanya titip doa ke beliau nanti di Baitullah, doakan jalan saya untuk umroh menjadi mudah.” Ustad Rahmat menjawab, “Insya Allah ini jalan Pak Wawan untuk segera ke Baitullah.”

Hati saya gambira, setelah itu saya melupakan uang itu. Saya mulai menabung lagi, mengumpulkan uang selembar Rp 50 ribuan, Rp 100 ribuan, dan seterusnya. Kembali lagi kencengin doa dan shalat… Tak lama setelah Idul Adha, salah satu travel tour  memberi promo untuk yang daftar awal akan berangkat Januari. “Januari???” Saya teringat doa saya. Jangan-jangan ini jawaban Allah. Allah beri jalan saya berangkat Januari, seperti doa saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung daftar, tanda jadi Rp 500 ribu. Itu hari Minggu. Kalau DP 300 dolar diberesi Senin, calon jamaah dapat cash back Rp 1 juta. Sehingga, jatuhnya USD 1.680 dari aslinya yang sebesar USD 1.750.

Ini muraaah sekali, rerata sekarang diatas 2.100 dolar untuk 9 hari. Saat itu saya bingung dapat uang USD 300 darimana? Saat itu kurs sudah Rp 12.100/USD. Saya teringat, saat itu saya punya garapan buku, sudah hampir selesai, honor belum dibayar. Lalu, saya minta honor dibayar sebagian. Alhamdulillah, Minggu sore langsung ditransfer. Selesailah dua tahapan sampai setor USD 300. Bagaimana sisanya? Itu yang saya tidak memiliki bayangan blas. Sungguh, membayangkan kekurangannya sekitar Rp 17 juta itu saya tidak tahu akan dapat uang dari mana. Suatu hari, saya dapat tugas rapat di Surabaya. Saya sempatkan mampir ke rumah bapak ibu di Sidoarjo. Saya ceritakan tentang saya yang mendaftar umroh. Mereka kaget campur senang, lalu bingung, dari mana saya punya uang Rp 17 juta dalam tempo 1,5 bulan harus beres? Saya ingat dengan jawaban saya waktu itu, “Saya punya Allah, Pak, Bu. Saya tidak akan minta uang ke Bapak Ibu.

Kalau sampai deadline uangnya tidak ada, saya mundur. Saya hanya mohon bantuan doa Bapak dan Ibu.” Setelah itu, saya tidak tahu apa yang berkecamuk dalam diri Bapak Ibu saya. Sepulang dari Surabaya, mungkin ini jalan yang diberikan Allah, ada orang yang minta dibuatkan sebuah buku. Saya tidak pasang tarif, tapi saya hanya minta honor dibayar dimuka, terserah dia mau kasih berapa. Saya jujur cerita ke dia, “Saya daftar umroh, tapi uangnya kurang dan harus lunas dalam waktu dekat.”

Allah jua yang menggerakkan hati orang yang kasih proyek ke saya itu. Tanpa saya sangka, dia beresi semua kekurangan biaya umroh saya. Dan saya yakin, honor yang saya terima diatas rata-rata. Subhanallah Allahu Akbar… Allah Maha Kuasa, Allah Maha Kaya… Siapa yang mampu menggerakkan hati orang itu sehingga mau memberesi kekurangan biaya saya, Mbak? Hanya Allah…

Saat saya mengurus paspor tiga suku kata, saya sempat telepon Bapak menanyakan tahun lahir Ibu saya. Lalu dijawab. Setelah telepon, Ibu tanya saya ada kepentingan apa. Bapak cerita kalau saya mengurus paspor. Ibu saya kaget. “Lho, berarti sudah punya uang? Dapat darimana?”.

Ibu saya sore itu menangis. Entah mengapa menangis. Mungkin pikiran Ibu campur aduk. Mungkin beliau khawatir saya gagal berangkat karena tak punya uang, lalu saya kecewa. Sore itu juga Ibu menelepon saya, menanyakan kepastian berangkat tidaknya. Setelah saya jawab saya berangkat, biaya sudah beres, Ibu saya langsung baca zikir. Segala zikir dibaca di telepon. Dari suaranya, saya tahu Ibu menangis. Saya jadi ikut mbrebes mili. “Tidak sia-sia Ibu berdoa, Gusti Allah mengabulkan doanya Ibu.” Meski saya lelaki, hati saya sore itu runtuh.

Runtuh membayangkan betapa tanpa setahu saya, Ibu mendoakan keberangkatan saya ke Baitullah setiap selesai shalat dan Tahajud. Matur sembah suwun, Ibu…. Terima kasih atas semua nikmat ini, Ya Allah… Inilah kisahnya Mbak. Orang mungkin menganggap saya banyak uang. Padahal, orang tidak tahu saya berkesempatan berangkat ini semua atas pertolongan Allah. Matematika manusia pasti memutuskan saya tidak bakal bisa berangkat dalam waktu sesingkat ini. Saya pancangkan tekad bulan Juli, bulan Januari insya Allah berangkat. Hanya enam bulan… Satu hal yang saya yakin, siapa yang memudahkan jalan orang ke Baitullah, Allah pasti mudahkan jalan baginya ke Baitullah. Santri akan berangkat Februari, insya Allah saya malah mendahului berangkat Januari, Masya Allah… Sekian ya Mbak, wassalamu’alaikum…

Selengkapnya :

http://www.kompasiana.com/khairunnisamusari/ini-umroh-ajaib-mbak-kalau-bukan-allah-yang-memberangkatkan-enggak-akan-bisa_54f37b16745513802b6c77f1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*